Minggu, 23 Februari 2020

APA YANG AKU TUNGGU

Cahaya sudah tak begitu terang
Berangsur-angsur surut tanpa permisi berucap
Angin pun mulai menghilang hingga daun tak lagi berguguran
Dan sebuah objek lain yang disebut aku
Masih bersandar di pohon kehidupan
Yang selalu berkembang tumbuh melewati dewasa
Tatapan aku tak jarang memperhatikan waktu pagi siang malam
Semi, gugur, kemarau, penghujan tidak terasa berganti-ganti
Tangis marah kecewa duka lara berpadu namun aku masih bersandar disini
Sudah berapa lama aku disini
Apa gunanya 
Siapa 
Aku masih binggung apa yang aku tunggu?

Bunga Jaman Sekarang

Senyummu tak bisa ku artikan bunga
Apakah itu senyum kebanggaan, keangkuhan atau kesombongan? 
Kau perlihatkan kesempurnaannya kelopakmu
Betapa indahnya lekuk tangkai penyangga
Semakin kau perlihatkan itu semakin banyak kumbang dan penikmat lain tertarik dan menghampiri
Dengan suka cita kau suguhkan itu semua
Tak kau bayangkan jadi apa kau dikemudian hari
Kemungkinan hanya sajak kelam di sudut kertas remuk
Atau sebagai bunga kering tak bermahkota
Dan saat itu terjadi baru berfikir ini lah akibat cinta tanpa basa-basi
Menikmati sunyi sepi sendiri berfikir keras
Tapi sudah tak berguna bermakna faedah
Cuma tinggal menunggu mati. 
Sadarlah bunga.....!!

Sabtu, 22 Februari 2020

Rindu melebihi Rindu

Malam begitu panjang bahkan detik demi detik ku resapi. 
Embun pagi mulailah basahi sarang Laba-laba yang masih lapar tanpa mangsa. 
Bahkan Mentari masih tertidur pulas dengan selimut kabut sang rembulan. 
Tapi kenapa ku masih terjaga? 
Wahai mata terlelap lah., kelenjar air mataku telah kering menahannya
Haruskah ku Nina bobokan layaknya Hanin yang sedang merajuk? 
Jangan sebut Namanya.....! 
Semakin terkenang semakin lama mata ini meronta
Sebenarnya ini kesalahan besar siapa? Berfikir dan berangan-angan tampa berhenti walau sebenarnya sudah letih
Tak sanggup mengayuh masih saja kau paksakan. 
Jangan rindu....,  kau pikir mereka juga tidak rindu? 
Wahai otak  Berfikirlah... Tak bisakah kau nego dengan ku walau hanya sekejap.  
Mari tidur.... Mungkin saja nanti saat terjaga mereka sudah di depan mata.... 
Semoga....!!!

Jumat, 21 Februari 2020

Segumpal Debu

Ku pejam kan mata sesaat meletak letih ku akan keadaan fana
Berbaring melesat jauh menuntun dalam kedamaian
Sedikit tertatih mencari arti dan definisi hidup di malam ini
Karna banyak hal yang seharusnya kulakukan tapi baru hayal

Udara tak bisa kuhirup sempurna
Menekan sesat bronkus ku yang tak berdaya
Melewati kebahagiaan dengan cercahan harap
Bersandar menikmati serpihan keinginnan

Tak semua hayal jadi kenyataan
Tak semua ketakutan bisa dihilangkan
Sebab dunia ada yang mengatur dan memiliki
Sedangkan diriku hanya segumpal debu yang tak berarti....

Buktikan Kau itu Indah

Dia mawar yang pernah layu lesu
hampir mati sebab kejamnya cuaca
Mati suri ditaman digenggam penghinaan
Semua kelopak nya rontok
Apa yang mau dibanggakan? 
Sekelompok Duri yang tumpul ditutupi kutu? 
Badai itu tak akan mengecap durimu
Tertunduk rapuh hampir tercabut semuanya
Badai masih panjang
Kau masih ingin berbunga menarik kumbang
Atau mati terkubur dan dilahap cacing kelaparan? 
Perkuatlah akar keteguhan percayamu
Ingat embun pagi sejuk untuk dirasai
Mekarmu bukti perjuangan panjang
Karena layumu, lesumu, dan matimu
Tak akan ditulis dalam cerita ini
Mata-mata lapar ini hanya tau mekarmu
Bangkitlah dan buktikan kau itu indah
Salah satu alasan taman menyehatkan jiwa
Bukan hanya untuk mata tetapi juga didalamnya. 

Rabu, 19 Februari 2020

Definisi Hidup Malam Ini

Ku pejam kan mata sesaat meletak letih ku akan keadaan fana
Berbaring melesat jauh menuntun dalam kedamaian
Sedikit tertatih mencari arti dan definisi hidup di malam ini
Karna banyak hal yang seharusnya kulakukan tapi baru hayal

Udara tak bisa kuhirup sempurna
Menekan sesat bronkus ku yang tak berdaya
Melewati kebahagiaan dengan cercahan harap
Bersandar menikmati serpihan keinginnan

Tak semua hayal jadi kenyataan
Tak semua ketakutan bisa dihilangkan
Sebab dunia ada yang mengatur dan memiliki
Sedangkan diriku hanya segumpal debu yang tak berarti....

Kamis, 13 Februari 2020

Belai Lagi Rambutku


selimut bau kasur usang 
tempat terlentang dengan renta
mataku tertutup dengan sungai airmata mengalir
keluarkan semua hal yang tak tertahan

benakku serasa diremas tampa peduli
bahkan disetiap sela jarinya bercucuran semua inspirasi
gerahamku tak luput dari paksaan dan tak berprasaan
menewaskan semua kedamaian berubah derita

bayangkan pada sosok malaikat penyelamat
yang dulu selalu mampu memberi penawar mujarab
tak seperti saat ini pasrah dengan kasur usang tempat terlentang
dan memeluk guling kumal sambil berlinang

aku ingin rambutku di belai hilangkan kesakitan
menghapus derita dengan bersandar di pahamu ibu
dan rindu semua kehangatan cinta nya
tak ku izinkan siapapun meranjak waktu

Rabu, 12 Februari 2020

Nikmati Kopimu Ayah

Senja telah hadir setelah terang
Kuat tekat tenaga ikhlas mu tak lagi bisa kau sombong kan
Memangku Nafkah yang dulu membebani
Masamu telah habis ayah
Waktu terus berlalu
Dua lelaki kecilmu dan seorang bidadari telah dewasa
Sudah berjaya berdiri dengan kaki sendiri
Tak lagi perlu kau pangku atau kau gapaikan keinginannya
Bahkan sudah mampu menghidupi mu dan mengambil alih bebanmu
Masamu
Berilah kepada kami
Cukup kau banggakan cerita usahamu dalam menghidupi kami dulu
Tak perlu kau teteskan air mata sedih karena kami ambil bebanmu
Anak sungai yang kau gali kini telah mengalir sendiri
Tak perlu lagi keringatmu kau alirkan untuk terus menggali
Biarlah dengan usaha kami agar menjadi sungai yang besar
Nikmatilah masa senja ini ayah
Cicipi kopi menatap bangga
Dan tetaplah bercerita ayah. 

Dunia, Maaf Aku Banyak Tanya.


Dunia
Siapa dia sebenarnya? 
Apa yang dia cari dipermukaan mu? 
Apa itu bahagia menurutnya? 
Bagaimana dia bisa merasakannya? 

Dunia
Aku juga mahu tahu
Apakah yang tertawa paling keras itu bahagia? 
Apakah berbicara tak terkalahkan itu bahagia? 
Ataukah merasa paling tahu dan paling benar itu bahagia? 

Dunia
Bagaimana kalau dibelakang tawanya dia merintih menangis? 
Dibalik bicaranya dia terdiam terhenyak di palung kebohongan? 
Di pembenaran keadaannya dia tertusuk ketidakmampuannya? 
Bahkan masih merasa iri pada kehidupan yang lain? 

Dunia
Apa yang kami cari disini? 
Harta...? Kapan cukupnya? 
Wanita...? Apakah cantik molek nya bisa abadi? 
Tahta...? Apakah kami tidak akan pernah jatuh ataupun mati? 

Dunia
Maaf aku bertanya terlalu banyak
Lagi pula kau tak akan menjawab. 

                  

Minggu, 09 Februari 2020

Menyelinap melalui celah jendela

Suara itu menyelinap melalui celah jendela
Bersatu bersama cahaya kemuning sore ini
Menusuk pedih ke mata, berbisik lembut ditelinga
Yang sebentar lagi akan begitu dekat
Laksana subuh dan embun pohon keladi
Meluruhkan pelita usainya gelap
Menampung rahmat suka cita
Derita kan segera berganti
Bahagia akan bersemi bersama angin
Hanya waktu dinanti hadirnya
Menunggu laksana hujan yang tak pasti
Kadang mendung suka berjanji manis
Walau ku tetap setia menunggu pelangi. 

Ikhlas Bertaruh Nyawa


Berawal tiga bulan usianya di dunia
Hanya dua hal yang ia tahu
Menangis dan tertawa itu saja
Tak seperti cerita dunia tak tahu malu
Ini bukan cerita sedih perjalanan berlumpur
Ini bukan erangan ketakutan hutan rimba terisolir
Bukan juga kisah perjuangan dengan air mata yang akhirnya diterima dengan lapang dada. 
Tetapi
Ini adalah kisah Kekayaan yang Berkah mencari keberkahan nya
Ini adalah pengabdian kebanggaan yang tak terlupakan
Ini adalah perjalanan berlumpur yang tak pernah terlupakan
Mengukir setiap jengkal jarak yang ditempuh dengan keringat
Walau setiap waktu disaat itu hanya ikhlas bertaruh nyawa. 
Kini usianya sudah tiga tahun
Lepaskanlah 
Sudah saatnya kau nikmati apa itu namanya kemajuan
Pengabdian atau perjalanan biarlah tinggal cerita. 



Jumat, 07 Februari 2020

Berkata Pada Kata

Aku sang huruf berkata pada kata
menangis meminta agar tidak dihadirkan disetiap kalimat
namun kata menutup telinganya tak peduli
dia selalu hadirkan aku dalam kalimat
bahkan diperindahnya dengan sentuhan majas
setelah ku berubah menjadi bait
aku tersenyum lebar akan kata yang dermawan
bahkan aku bisa berbangga saat menjadi syair
jika kebahagiaan dan kesedihan itu dirangkum menjadi satu
maka akan ku kumpulkan semua dan ku ubah semua isi kalimatku dengan kebahagiaan
dan ku buang kesedihan tampa di ketahuan oleh orang lain
Sampai nanti syair indah memenuhi benak para pujangga

Air, Api dan Angin

Nyalanya beriak tuli pada angin
Mulai berkobar tampa disadari bantuan nya
Mulai melahan kebekuan pasrah dalam diri
Dan bersemangat untuk berbagi kehangatan dengan yang disana
Sadarkah air, api dan angin telah berkolusi
Namun apakah air mengambil peran penting malam ini
Sepertinya tidak, karena sedih dariku sekarang tak bermakna
Dan air takkan hadir sebab emosiku di hiasi bahagia
Semua karena kau keyakinan
Api semangat berkobar melahap semua gundah
Angin kedamaian berhembus usir semua gelisah
Sekali lagi terima kasih. 

Mengakunya Bertuah

kalimat ku kan bertuah
dan kan ku hisap semua keberanian
kuremesan jantung kalian satu persatu
kan kutarik semua nya tampa kasihan 
dan kalian akan merasakan apa itu ketakutan

kata kata ku akan bertuah
dan tunduklah kepadaku
ku beri kalian kenikmatan
dan rasakan apa itu keberanian
aku akan menjadi api dan kalianlah angin juga hujan

lidah ku mulai bertuah
bahkan akan lebih pahit dari sipahit lidah
dan takutlah engkau sekalian
tapi jangan lah kepadaku
karena aku masih takut pada Tuhan. 

Rabu, 05 Februari 2020

Bernafas Dulu Saja

Baru membuka mata
Disapa merdu Laba-laba bahagia
Pastilah malam tadi banyak mendapatkan mangsa
Senyum palsu saja, selamat pagi juga

Pekik ayam sebenarnya yang mungkin berjasa
Apakah benar bekerja atau ikut-ikutan saja
Buang kegelapan dilipat bersama selimut pagi
Basuh diri walau nanti kembali kotor dengan dunia

Teringat Manusia juga
Manusia yang lebih sibuk dari Laba-laba atau yang sesudahnya
Yang merasa hebat dengan ucapan
Bahkan berkomentar seperti ahli tetapi kosong di pembuktian 

Manusia yang begitu sibuk
Mengurus manusia lain dan lupa pada dirinya
Sungguh manusia yang sempurna
Haruskah aku juga jadi manusia serupa supaya disebut manusia?

Ah.... 
Yang penting bernafas dulu saja.....!!! 

Menjelang Tengah Malam

Malamnya sudah berjalan 
Tertatih menuju tengahnya saat 
Ku isi dengan letih nya terang 
Dan cahaya pun bersembunyi di dalam selimut hangat 

Rindu pun berbisik 
Kapan kau datang? 
Menyentuh batin meremas Lara 
Hingga lupa lah cara tersenyum untuk sesaat 

Walau rindu meronta yang malam terus beranjak 
Mau terpejam maupun mati 
Namanya juga dunia 
Manusia berbuat sesukanya 
Pencipta jiwa yang menentukannya 

Selamat Malam

Selasa, 04 Februari 2020

Budak Dunia

Bersatu manis pahit antara gelap dan terang
Namun mata semakin sayup mulai tuli akan cahaya
Tantangan seakan meletuskan amunisinya di urat syarafku
Meremas semangat letih akan huruf-huruf mulai menghantui

Kadang mereka berubah menjadi paragraf yang mencekik
Dengan cambut skripsi memar tampa iba di punggungku
Mereka tak melihat gerimis menemani gelap bawah kelopak mata

Hai huruf yang berubah kata
Hai kata yang penuh dengan teori
Wahai paragraf penuh deskripsi
Berilah budak dunia ini kebebasan yang kau janjikan
Dimana ku bisa melihat kupu - kupu dibawah pelangi

Berbungkus Kemegahan

Tiupan angin datang dan pergi
Hanya membuka pintu reot dan segera tertutup
Tak lama kemudian datanglah sebuah cahaya
Begitu terang dan silaukan mata
Nurani berkata " malaikatku telah datang dan aku akan segera bahagia"
Tetapi kenyataan jauh dari arau yang melintang
Penderitaan ku semakin mendalam
Hanya kesakitan yang berbungkus kemegahan
Membawa ku pada kebohongan yang berserakan di tepi jalan
Layaknya seorang gadis kecil yang di sihir menjadi dewasa
Bahkan kau, dia, atau salah satu dari kalian tak dapat mengartikan suatu kalimat sederhana tapi artikan teramat dalam
Ku ingin dapat hidup dalah kepastian dan masa depan tampa ada sekecil biji zarah pun pembodohan
Tentu kau juga berharap seperti yang ku harapkan
tapi kau bahkan aku telah terperangkan didalam nya,bukan??
Adakah secercah cahaya yang sesungguhnya bukan sekedar pembodohan yang berkedok pada kepalsuan? 
Kebahagian yang kuharap yang kau dapat tidak terdaftar di dalam nya
Begitu juga aku
Bahkan kalian

Belum Berujung Klimaks

sang pujangga rindukan syair
menatap dalam pada tinta hitam yang tergores berantakan
laksana senyuman rembulan kelabu ditutupi oleh sang beku perasaan
tak mengerti kemana harusnya angin pilu berhembus
yang pasti mentari pasti tetap hadir esok hari
namun goresan sajak syair pujangga tak kunjung menemukan klimaks
adakah cahaya lilin yang sebentar lagi habis menerangi kegundahan pujangga
sebelum tiang mentari berdiri kokoh pada waktunya
berkelana mencari sesuatu yang dicari semua orang
bagaimana mungkin satu hal namun di cari semua manusia yang bernafas? 
tapi aku yakin akulah yang akan berdiri di atas sana
kemenangan dan membanggakan sesuatu itu
dan sesuatu itu adalah kebahagiaan

Senin, 03 Februari 2020

Kapuk Lusuh


Dinginnya terlalu dingin
Tak sepatah katapun bisa resapi
Kebencian selama ini jadi teman sejati
Tak pernah lepas menerkam diri

Hening yang berdansa gembira
Sepi tersudut merangkum lara
Mengisi rindu yang meriang
Memupuk logika seribu tanda tanya

Senyuman munafik biasa melontar
Namun rindu merongrong siapa yang rasa
Hanya kapuk lusuh yang mencoba tenangkan diri
Memeluk tenang tanpa suara
Mengusap halus kecewa dunia
Dasar Dingin durjana



Minggu, 02 Februari 2020

Paling Dibenci atau Paling Dikasihi

Senyummu menghantuiku, 
menghempaskan ku di sudut kerinduan
Siksaan rasa yang disebut anak Adam itu cinta
Yang ku pikir itu dulunya adalah kebodohan 
Yang ku katakan itu adalah hanya hasrat yang dikalahkan logika
Namun apa adanya saat ini? 
Akulah manusia terbodoh karena rasaku padamu
Akulah orang yang paling tak berlogika menahan hasratku untukmu
Apakah aku hamba yang paling dibenci Tuhan hingga disiksa seperti ini ?? 
Ataukah hamba yang paling dikasihi karena Tuhan percayakan kau jadi milikku ? 

Kaulah wanitaku
Kau milik ku
Aku rindu !!