keluh mengalir dibendung hasil dikali nyali
menatap sayu di siang kusam remuk tatapan mentari
teruyung-uyung menata bentuk masa tersungkur iba
genggaman akan batangan bertinta menulis nasib
hiruk pikuk dunia hancurkan kepastian pendengaran
otakku pun menjadi buntu tak mengerti akan filsafat
namun raga memaksa jiwa untuk setia tak bergumam
menatapkan kedua bola pada pusat perhatian yang menunggu
langit-langit putih seakan penuh tulisan
sesekali kutatap membisikkan banyak kata sulit
sedikit paham akan beribu pernyataan
hingga suatu masa akan datang berganti.