Malamku terasa lebih lama
Hingga bisa ku perhatikan Laba-laba diatas sana
Merajut sarangnya satu per satu, benang per benang
Bahkan kutemani dia menunggu mangsanya
Kami sama-sama menanti
Dia menanti pengganjal perut untuk hidup
Sedang kan aku menunggu agar bertemu bagian hidupku
Pernah ku coba untuk bercerita
Agar malam ini tidak begitu memuakkan
Apalah daya dia tak sanggup lagi karena laparnya
Aku juga tak sanggup akan kegilaan ku
Malam ku masih berlanjut
Merangkak aku pergi keluar
Kulihat dia juga sendirian
Dia sang rembulan
Ku lambaikan tanggan tiada balasan
Kau begitu sombong
Apa yang kau banggakan?
Cahaya sahaja kau hanya menerima
Lalu kau dustakan kau yang bercahaya
Kau bohongi semua yang melihatmu
Cantik, indah dari setiap sudut pandangan mereka
Ah sudah lah... Aku tak mau seperti kau
Ku masuk lagi ke kamar kesendirian
Si Laba-laba sudah tak bergerak
Mati dalam penantiannya
Tapi setidaknya dia sudah berusaha bertahan
Apakah aku juga akan mati dalam penantianku?
Maaf aku bukan Laba-laba
Menanti yang belum pasti
Aku seorang ayah sebuah bunga kehangatan
Aku seorang suami sebuah pohon tahan goncangan
Yang ku tunggu adalah kepastian
Hanya menunggu waktu untuk berjaya.