Menurut beliau bahwa pendidikan adalah proses menuntun
tumbuh kembangnya anak sesuai dengan kodrat dan iradat yang dimilikinya agar
anak tersebut memperoleh kebahagaian dan keselamatan baik sebagai individu
maupun bagian dari masyarakat.
Untuk itu, salah satu proses menuntun tersebut dapat
dilakukan dengan cara coaching. Dalam coaching guru berperan sebagai coach yang
dapat menuntun murid sebagai coachee dengan mengajukan pertanyaan untuk
menggali segala potensi dan kemampuan yang dimiliki murid dengan tujuan menuntun
dan mengarahkan untuk mencari solusi.
Guru sebagai coach sangat berperan penting dalam menciptakan
kenyamanan bagi murid melalui keterampilan berkomunikasi dengan baik sehingga
timbullah rasa empati, saling menghormati dan saling menghargai antara guru dan
murid.
Dengan kemampuan dan keterampilan bertanya dari seorang
coach dapat menyadarkan murid akan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya
sehingga murid tersebut mendapatkan solusi atas permaslahannya sendiri. Dalam
proses coaching, sangat jelas terlihat bahwa guru dan murid adalah mitra dalam
belajar.
Belajar bersama mengenali kekuatan yang dimiliki untuk
mengasah dan meningkatkan kemampuan murid. Kini, bukan zamannya guru cemerlang
sendiri akan tetapi bagaimana murid pun menjadi cemerlang dan bersinar.
Untuk itu guru dapat membantu murid menemukan kekuatan untuk bisa hidup sebagai
manusia seutuhnya.
Salah satu cara untuk meningkatkan potensi dan kemampuan
murid adalah dengan mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran
yang dilakukan dengan amemperhatikan kebutuhan belajar murid berdasarkan minat,
profil dan kesiapan belajar.
Guru sebagai coach akan selalu berupaya untuk menggali
kebutuhan belajar murid dengan mendesain proses pembelajaran yang mampu
memaksimalkan segala potensi yang dimiliki murid. Selain itu, secara social
emosional segala potensi murid dapat berkembang secara maksimal.
Proses coaching dapat berjalan degan mengoptimalkan ranah
social emosional sehingga setiap murid mampu menyelesaikan setiap masalah
dengan potensi dan kemampuannnya sendiri. Pada akhirnya mereka akan mampu hidup
bebas dan merdeka menentukan jalan hidupnya sesuai kekuatan dan potensinya
masing-masing.
Coaching yang dilakukan oleh coach kepada coachee
membutuhkan empat keterampilan yaitu:
1)
Keterampilan membangun dasar proses coaching,
2)
Keterampilan membangun hubungan baik,
3)
Keterampilan berkomunikasi, dan
4)
Keterampilan memfasilitasi pembelajaran.
Dalam
proses coaching juga ada salah satu model yang biasa digunakan oleh coach yaitu
model TIRTA yang meliputi langkah-langkah Tujuan utama pertemuan/pembicaraan;
Identifikasi masalah coachee; Rencana aksi coachee; dan Tanggung
jawab/komitmen. Dalam Aksi Aspek berkomunikasi untuk mendukung praktik coaching
antara lain, Komunikasi Asertif menjadi Pendengar aktif, Bertanya reflektif dan
Umpan balik positif.
Refleksi terhadap proses coaching di sekolah
Coaching
adalah salah satu bentuk usaha yang dilakukan guru untuk menuntun segala
potensi murid untuk hidup sesuai kodratnya yang dimilikinya.
Coaching
menjadikan murid dapat hidup sebagai individu dan bagian masyarakat yang mampu
menggali dan memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk menyelesaikan
masalahnya sendiri.
Coaching
dapat menuntun murid untuk berkesadaran penuh mencapai kemerdekaan belajar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar